OpenBox : Weekend with conky


Konfigurasi conky pertama yang Penulis buat (screenshot di bawah). Penulis cukup takjub dengan konfigurasi conky yang banyak dipajang di internet. Breathtaking. Namun sesuai dengan misi Penulis yang menginginkan laptop dengan distraksi seminimal mungkin, saat ini conky cukup menampilkan:

  1. Jam dan tanggal
  2. Beberapa informasi sistem (masih Penulis pertimbangankan untuk dihilangkan)
  3. Network status
  4. Kebetan keybind

Font menggunakan Fredericka the Great dan Cabin Sketch. Warna merah menggunakan hex #B11116

OpenBox with conky

OpenBox with conky

Berikut .conkyrc Penulis. Belum banyak perubahan dari template awal yang disediakan. Sebagian besar variabel dan konfigurasi belum terlalu Penulis pahami. Item yang diubah Penulis berikan comment.

alignment top_left
background no
border_width 1
border_inner_margin 10
cpu_avg_samples 2
default_color white
default_outline_color white
default_shade_color white
draw_borders no
draw_graph_borders yes
draw_outline no
draw_shades no
use_xft yes
xftfont CabinSketch:size=12 #Modified
gap_x 33 #Modified
gap_y 33 #Modified
minimum_size 300 5 #Modified
net_avg_samples 2
no_buffers yes
out_to_console no
out_to_stderr no
extra_newline no
own_window yes
own_window_class Conky
own_window_type desktop
stippled_borders 0
update_interval 1.0
uppercase no
use_spacer none
show_graph_scale no
show_graph_range no
double_buffer yes #Modified. Prevent blinking when refreshing

TEXT
${time %d-%B-%Y}
${font FrederickatheGreat:size=24}${alignc}${time %H : %M : %S}${font}

${font FrederickatheGreat:size=16}${color}System$hr${font CabinSketch:size=12}
${color}Uptime:${color B11116} $uptime
${color}Frequency (in MHz):${color B11116} $freq
${color}Frequency (in GHz):${color B11116} $freq_g
${color}RAM Usage:${color B11116} $mem${color}/${color B11116}$memmax ${color}-${color B11116} $memperc%
${color}Swap Usage:${color B11116} $swap${color}/${color B11116}$swapmax ${color}-${color B11116} $swapperc%
${color}CPU Usage:${color B11116} $cpu%
${color}Processes:${color B11116} $processes  ${color grey}Running:${color B11116} $running_processes

${font FrederickatheGreat:size=16}${color}Disk Usage$hr${font CabinSketch:size=12}
${color}Total: ${color B11116}${fs_size /}${color}
${color}Used: ${color B11116}${fs_used /}${color}

${font FrederickatheGreat:size=16}${color}Networking$hr${font CabinSketch:size=12}
eth0: ${font 123:size=12}↑${font}${color B11116} ${upspeed eth0}${color} - ${font 123:size=12}↓${font}${color B11116} ${downspeed eth0}${color}
eth1: ${font 123:size=12}↑${font}${color B11116} ${upspeed eth1}${color} - ${font 123:size:12}↓${font}${color B11116} ${downspeed eth1}${color} ssid: ${color B11116}${wireless_essid eth1}${color}
wlan3: ${font 123:size=12}↑${font}${color B11116} ${upspeed wlan3}${color} - ${font 123:size:12}↓${font}${color B11116} ${downspeed wlan3}${color} ssid: ${color B11116}${wireless_essid wlan3}${color}

${font FrederickatheGreat:size=16}${color}Keybind$hr
${font CabinSketch:size=12}${color B11116}S-e${color white}${offset 40}mc
${color B11116}S-v${color}${offset 40}vim
${color B11116}S-t${color}${offset 42}xfce4-terminal
${color B11116}S-r${color}${offset 42}gmrun
${color B11116}S-w(1)${color}${offset 19}chrome
${color B11116}S-w(2)${color}${offset 18}firefox

${color B11116}C-1${color}${offset 40}odoo7
${color B11116}C-2${color}${offset 38}odoo8
${color B11116}C-3${color}${offset 38}git repo

OpenBox : 4 desktops? Really?


Penulis tidak dapat mengigat latar belakang pengambilan keputusan membuat 4 desktop di laptop Penulis. Sepertinya sekarang saat yang tepat untuk mengevaluasi keputusan tersebut.

Untuk beberapa orang, memiliki beberapa desktop mungkin menjadi kebutuhan. Setelah perenungan yang panjang, lebih dari desktop nampaknya terlalu banyak. Banyak desktop buat Penulis artinya penulis sudah mulai tidak fokus. Kesalahan rentan terjadi. Penyelesaian tugas akan menjadi lebih lama.

Prinsip yang akan Penulis pakai ke depannya :

Jika Penulis sudah merasa membutuhkan lebih dari 1 desktop, artinya sudah saatnya sudo halt dijalankan. Tutup laptop. Cari udara segar.

One desktop it is. Revisi pada rc.xml:

....
....
    <desktops>
        <number>1</number>
    </desktops>
....
....

OpenBox : Freedom is Hard


Ok. Sudah hampir seminggu Penulis mencoba konfigurasi tercihui untuk OpenBox. Harus Penulis akui, kebebasan tidak datang dengan mudah. Jangankan mulai mencoba tint2, conky, dll. Penulis belum bisa memutuskan konfigurasi keybind yang pas hahahaha.

Bahkan akhirnya beberapa keybind mengikuti norma standar:
Super + t : xfce4-terminal
Super + r : gmrun
Super + e : gnome-commander
A + Tab : switch window

Beberapa tambahan keybind untuk membuka aplikasi:
Super + v : gvim
Super + w (1) : google-chrome
Super + w (2) : firefox

Tambahan keybind untuk mengakses beberapa direktori yang sering digunakan dengan terminal:
C + 1..0

Dan akhirnyaaaa … Penulis berhasil memutuskan wallpaper untuk OpenBox

OpenBox Wallpaper

OpenBox Wallpaper

OpenBox menggunakan feh untuk mengkonfigurasi wallpaper. feh dijalankan pada autostart.sh

OpenBox : Init


Hasil awal penggunaan OpenBox tanpa DE. Performa naik drastis hahaha. Berikut screenshot desktop Penulis (Gita Ekapratiwi pasti komentarnya : Ih desktopnya membosankan hahahaha)

OpenBox

OpenBox

Keybinding:

  • Super+1 : Nautilus
  • Super+2 : Terminal
  • Super+3 : Chrome
  • Super+4 : Firefox
  • Super+9 : gmrun
  • Super+0 : wicd

Tambahan menu:

  • Reboot
  • Shutdown

nginx : Konfigurasi Default Server


Pagi ini Penulis bangun agak cepat untuk menyiapkan server demo odoo untuk salah satu kenalan Penulis. Penulis kemudian melakukan langkah awal yang tidak biasa dalam menyiapkan server demo, yaitu membuat subdomain untuk server demo odoo. Langkah ini diikuti oleh mencoba membuka URL subdomain tersebut pada browser. Setengah takjub ternyata subdomain tersebut sudah bisa dibuka, walaupun diforward ke server yang salah, padahal Penulis belum mendaftarkan domain tersebut di nginx

Segelas kopi, segelas teh, dan berlembar-lembar halaman web kemudian Penulis baru menemukan bahwa :

ketika nginx tidak menemukan sebuah nama server, maka nginx akan melakukan dua hal berikut :

  1. Mencari server dengan directive default_server
  2. Mencari server pertama pada port yang dimaksud

Nginx Penulis ternyata tidak mempunyai default_server, oleh karena itu nginx memforward request dari subdomain tersebut ke server pertama yang standby di port 80. Damn

Penulis kemudian menambahkan directive di bawah untuk mengarahkan request yang salah ke halaman 504 Bad Gateway

server {
    listen       80  default_server;
    server_name  _;
    return       504;
}

Ok lesson learned … * yawn

Membuat Koneksi Ke Postgre Di Remote Server Via SSH Tunneling Dengan gSTM


Studi kasus :

Remote server
IP : 192.168.100.69
Port SSH : 5666
Port postgre : 5432

Localmachine :
Port 5666 akan digunakan untuk koneksi ke postgre via ssh tunneling

User SSH
username : user_ssh
password : password_ssh

Login Postgre di remote server :
username : user_postgre
password : password_postgre

#1 Install gnome SSH Tunneling Manager (gSTM)


sudp apt-get install gstm

#2 Buka gSTM

#3 Buat tunneling baru dengan konfigurasi

Name : Tes Tunneling (bebas)
Host : 192.168.100.69
Login : user_ssh
Port : 5666

Kemudian Add Port Redirection dengan konfigurasi sbb :
Type : Local
Port : 5666
To Host : localhost
Port : 5432

#4 Mulai tunneling dengan mengklik tombol start

#5 Buka pgadmin

#6 Buat koneksi baru dengan konfigurasi

Name : Tes koneksi (bebas)
Host : localhost
port : 5666
username : user_postgre
password : password_postgre

Buka koneksi